kota Makale – Tana Toraja

Juni 14, 2008 1 komentar

Plasa Toraja, kota Makale Makale merupakan pusat administrasi dan pemerintahan Tana Toraja. Kota kecil ini berawal sebagai pasar Tondon, dimana pedagang-pedagang bugis datang untuk berdagang pakaian dan membeli kopi. Banyaknya pedagang dan jauhnya jarak dari tempat asal para pedagang bugis membuat mereka memilih untuk mulai membangun tempat menginap tidak terlalu jauh dari pasar. Daerah di sekitar Paku dan to’kaluku kemudian perlahan-lahan berkembang menjadi tempat tinggal para pedagang ini.

Sementara Pusat Onder-Afdeling Makale yang didirikan Belanda pada mulanya tidak terletak di tempat yang sekarang menjadi kota Makale. Belanda awalnya memilih membangun Makale di sekitar Palesan, karena diangap cukup dekat dengan daerah Rano-Buakayu yang cukup gencar melawan Belanda pada awal kedatangannya. Baru beberapa tahun kemudian, dengan alasan akses, Belanda memindahkan Makale dari Palesan ke tempat kota Makale saat ini. Ketika itu, Belanda melihat daerah di sekitar pasar Tondon dan pemukiman pedagang Bugis sangat baik untuk membangun kota Makale.

Potret kota kecil Makale dapat dilihat di sini.

Rambu solo dan Kematian yang disempurnakan

Toraja demikian dikenal dengan tradisi upacara penyempurnaan kematian yang sering disebut rambu solo. Saya menyebutnya upacara penyempurnaan kematian, karena seseorang yang meninggal baru akan dianggap benar-benar telah meninggal setelah keseluruhan prosesi dalam upacara ini digenapi. Sebelum digenapi prosesinya, orang yang meninggal hanya dianggap sedang “sakit” atau “lemah”, sehingga jasadnya tetap dibaringkan di tempat tidurnya serta kepadanya selalu duhidangkan makanan & minuman, sirih pinang atau rokok, bahkan tetap diajak berdialong sekalipun sudah tentu tidak akan memberikan suara. Pokoknya tetap diperlakukan seperti orang yang belum mati.
Lebih daripada itu, rambu solo merupakan upacara pembekalan dan persembahan kepada yang meninggal untuk melangkah ke alam roh, kembali kepada keabadian bersama para leluhur melalui sebuah peristirahatan yang disebut PUYA. Bekal dan pendamping perjalanan menuju keabadian ini tidak terbatas pada hewan korban yang disembelih pada upacara saja, tapi juga pada harta benda berupa pakaian, perhiasan, hingga uang yang dihantarkan bersama jasad orang yang meniggal ke tempat pekuburan. Kepada leluhur yang telah meniggal jauh sebelumnya, dapat pula dititipkan persembahan korban sembelihan melalui sanak keluarganya yang sedang diupacarakan. Dalam setiap upacara inilah kesetiaan dan kecintaan setiap toraja kepada para leluhurnya, di dalam hidup dan matinya.Toraja percaya bahwa setelah meniggal, arwah seseorang akan menempuh perjalanan ke PUYA. Puya ini sendiri adalah nama sebuah kampung di wilayah selatan tana toraja. Di sanalah dunia dimana para arwah berada, yang kemudian pada suatu waktu nanti akan mengalami transformasi kembali menjadi setingkat dewa yang berdiam di langit, tempat manusia dibentuk untuk pertama kalinya. Toraja menyebutnya to mebali puang.

Kembali tentang rambu solo sebagai upacara penyempurnaan kematian, segala persembahan yang dibawa oleh seorang yang meniggal akan menentukan juga statusnya di alam Puya. Tanpa bekal yang pantas, arwah seseorang tidak akan diterima dengan layak ketika tiba di Puya.

Kategori:Uncategorized

Menelusuri jejak-jejak Belanda di Makale.

Tulisan dan Foto oleh So’ Batte’, warga Makale pada 1982 – 1997

artikel asli di www.torajaland.com

Makale, sekalipun disinggahi Belanda tidak sampai setengah abad, ternyata banyak menyisakan kenangan-kenangan kehadiran bangsa kulit putih tersebut dalam bentuk bangunan bergaya arsitektur Belanda. Hanya sebagian memang yang masih berdiri, itupun dengan banyak modifikasi. Sisanya banyak yang terlanjur dirobohkan dengan alasan pembangunan dan modernisasi. Bagaimanapun, setiap satu penginggalan yang masih ada adalah saksi segala pahit dan manis perjumpaan Toraja dengan Belanda di masa yang lalu.

1. Gereja Sion I Makale.

Dibangun di pojok barat daya kolam Makale, gedung gereja Sion I dengan jelas menunjukkan arsitektur gereja-gereja Eropa berupa atap yang lancip dan dilengkapi menara. Bagian interior dan konstruksi langit-langit ruangan gereja juga terkesan sangat Eropa. Ruangan Utama gereja dilengkapi dengan balkon yang juga merupakan akses ke menara. Selain itu, terdapat ruangan tambahan (sayap) ke arah kiri dan kanan yang digunakan untuk Jemaat, kelompok paduan suara,pemusik, dan penatua gereja.
2. Jalan Veteran.


Jalan Veteran berada tepat di sisi barat kolam Makale, dan berujung tepat di depan Gereja Sion I Makale. Di sini, berjejer manis bangunan-bangunan dari jaman belanda dengan model atap limas. Semuanya menghadap langsung ke kolam Makale.

Dari bentuk dan ruangan-ruangan pada bangunan, sepertinya merupakan rumah tinggal para pejabat pemerintahan pada masa pendudukan Belanda. Setelah Belanda tidak lagi berkuasa, bangunan-bangunan ini beralih kepemilikan dan penggunaan menjadi kantor BRI, kantor/markas Legiun Veteran, Markas cabang pemuda panca marga, rumah dinas kepala Kejaksaan Negeri Tana Toraja, dan dua lagi rumah lain di ujung bagian utara.

Di Belakang rumah-rumah di Jl. Veteran sebenarnya masih ada lagi barisan bangunan Belanda yang saat ini umumnya tetap menjadi rumah tinggal.

3. SMP Kristen Makale.

Kompleks SMP Kristen Makale tinggal menyisakan bagian gerbang dengan empat buah pilar-pilar bundar yang masih asli. Sisanya adalah bangunan baru yang bertingkat dan tidak lagi mengikuti ciri bangunan pada mulanya. Kompleks ini berada di Jalan Nusantara Makale, yaitu terusan jalan sisi timur kolam makale ke arah utara atau disebut juga jalan poros Makale-Rantepao.

4. Puskesmas Makale (anno 1919).

Bangunan Puskesmas Makale sangat khas dengan tulisan tahun 1919 di bagian atas pintu masuk. Sepintas terlihat seperti dua bangunan yang dihubungkan oleh bangunan lain yang memanjang mengikuti sisi jalan. Tulisan anno 1919 berada pada pintu masuk bangunan sebelah utara, sementara pada bangunan di selatan, bagian atap yang berbentuk limas sudah ditambahkan dengan bentuk atap rumah tongkonan toraja.
5. Jalan Ampera.

Bangunan Rumah Tahanan/Lembaga Permasyarakatan Makale merupakan ujung selatan dari Jalan Ampera.
Bagi warga Makale, bangunan ini lebih sering disebut dalam bahasa yang tidak dihaluskan, yaitu “penjara”. Pada bagian atap yang berbentuk limas sudah ditambahkan variasi bentuk atap rumah tradisional tongkonan toraja. Kemungkinan besar bangunan ini memang sejak semula dibangun untuk penjara atau markas tentara.

Tepat di sebelah utara bangunan penjara terdapat rumah jabatan kepala rumah tahanan Makale. Selanjutnya, masih bersebelahan dengan rumah ini, terdatap rumah jabatan wakil bupati tana toraja. Dari pengamatan luar, kedua rumah jabatan ini masih terlihat asli sebagai peninggalan Belanda.

Masih di Jalan Ampera, berseberangan dengan bangunan penjara , terdapat satu buah kios dan sebuah kantor milik Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral kabupaten Tana Toraja. Kedua bangunan ini pun masih asli dari zaman Belanda.

6. Jalan R.A. Kartini.

Jalan kartini menghubungkan Jalan Ampera (di depan Penjara Makale) dan Jalan Nusantara (sebelah gedung DPRD Tana Toraja/Patung Pong Tiku). Melihat lokasi yang sangat strategis, sepertinya lokasi ini merupakan pusat administrasi pemerintahan kolonial Belanda sebelum kemerdekaan Indonesia.

Hingga akhir tahun 1980-an, bangunan-bangunan khas Belanda masih berdiri di kedua sisi jalan yang teduh dengan pohon-pohon tinggi dan rindang ini. Kira-kira menyerupai Jalan Ganesha atau Jalan Dago di kota Bandung. Sayangnya, dengan alasan pembangunan, pohon-pohon di jalan ini sudah ditebang tanpa tersisa. Beberapa bangunan asli juga diganti dengan bangunan yang dianggap lebih modern. Adapun yang masih tersisa hanya bangunan yang digunakan sebagai kantor bersama KORAMIL Makale dan PERUSDA Tana Toraja.

7. Jalan Musa.

Jalan Musa adalah terusan Jalan Ampera ke bagian selatan. Yang masih tersisa dari warisan Belanda di sini hanya tinggal sebuah rumah tinggal yang saat ini digunakan untuk aktivitas Muhammadiyah Makale.

8. Jalan Tongkonan Ada’

Jalan Tongkonan Ada mulai dibangun pada kedatangan kembali Belanda setelah Kemerdekaan Indonesia (NICA). Ketika itu, di daerah di sebelah utara to’kaluku ini dibangun rumah-rumah tinggal dengan arsitektur Belanda. Rumah-rumah ini dibangun untuk para parengnge’ atau pemuka adat saat itu.

Pada perkembangan selanjutnya, rumah-rumah di Jalan Tongkonan Ada’ dialihkan menjadi aset negara dan digunakan untuk kantor beberapa instansi. Saat ini, dari barat ke timur berturut-turut adalah kantor KPUD Tana Toraja, Sekretariat KONI Tana Toraja, Badan Pengawas Daerah, dan satu kantor Dinas.

Nama Jalan Tongkonan Ada’ pada akhir tahun 1990-an diubah menjadi Jalan Ibu Tien Soeharto, namun bagi warga di Makale, masih akrab menyebutnya Tongkonan Ada’.

Dari catatan survey singkat ini, ternyata Makale mewarisi bangunan-bangunan penginggalan zaman penjajahan Belanda yang merupakan saksi perkembangan pemukiman dan administrasi kota Makale. Bangunan-bangunan yang masih ada seharusnya dapat dijadikan cagar budaya dan dilestarikan namun ternyata Pemerintah Tana Toraja tidak mempunyai konsep dan visi mengenai pelestarian bangunan atau kompleks warisan masa lalu di Makale.

Catatan: Artikel ini masih dalam tahap rintisan dan terus dikembangkan sesuai dengan perkembangan atau tambahan informasi yang kami peroleh. Apabila Anda mempunyai catatan-catatan jelas mengenai sejarah bangunan-bangunan yang disebutkan di sini, mohon dapat diinformasikan kepada kami melalui services /at/ totajaland /dot/ net untuk makin memperkaya pengetahuan kita mengenai Toraja di masa lalu.

Kategori:tentang toraja
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.